Ustadz Deni Abdillah Himbau Asatidzah YNUK untuk Bisa Saling Memahami

Banyumas, Nurulummah.Org – Dalam melakukan aktivitasnya, tentu seorang muslim ingin mendapatkan pahala dari apa yang dilakukannya. Bisa diibaratkan seorang manusia melakukan jual beli dengan Allah.

Kalau pedagang menjual sesuatu untuk mendapatkan untung, seorang muslim melakukan jual beli dengan Allah untuk mendapatkan pahala dan ridha-Nya.

Demikian kurang lebih yang disampaikan Ustadz Deni Abdillah dalam kajian rutin Kamis (8/6/2017) di Aula YNUK.

Beliau mengatakan, untuk berjuang menegakkan kalimat Allah harus ada jamaah. Sebuah jamaah harus ada kepemimpinan. Kemudian dalam sebuah kepemimpinan harus ada ketaatan.

Intinya, harus ada organisasi yang baik untuk bisa memperjuangkan Islam. Oleh karena itu, karakter manusia di dalam organisasi tersebut juga harus baik.

“Kita perlu tahu tipe orang-orang yang ada di sekeliling kita, karena kalau kita tidak bisa memahami tipe karakter orang-orang yang ada di sekitar kita,” paparnya, “semuanya akan jadi kacau, ribet, bahkan saling hujat.”

Menurut ustadz asal Adipala ini, ada empat tipe karakter manusia, yakni: (1) Melankolis, (2) Plegmatis, (3) Sanguinis, (4) Koleris. Masing-masing tipe punya kelebihan dan kekurangannya.

Pertama, melankolis. Tipe orang yang tertib, teratur, terjadwal, analitis, teliti, idealis, dan perfeksionis.

Namun punya kekurangan, yaitu cenderung mempermasalahkan hal-hal yang sepele, tidak ingin adanya kesalahan meski hanya sedikit, serta menginginkan segala sesuatunya sempurna.

Kedua, plegmatis. Seorang yang menyenangkan, simpatik, simpel, bisa menjadi penengah, bisa menjaga perasaan orang, dan kuat menahan emosi.

Kelemahan tipe plegmatis, di antaranya ialah kurang antusias terhadap perubahan, menghindari masalah, keras kepala, tidak mudah kompromi, dan lebih senang menjadi penonton.

Ketiga, sanguinis. Tipe orang yang periang, optimis, ekspresif, supel, dekat dengan anak, punya banyak teman, dan hebat di lapangan.

Akan tetapi, tipe sanguinis punya kelemahan, yaitu suka berbicara; hal yang remeh-temeh pun bisa menjadi bahan pembicaraan. Bahkan, hal yang kecil, sepele, dan sederhana; bisa menjadi besar dan kompleks.

Selain itu, tipe ini juga punya kelemahan, terlalu memperhatikan penampilan fisik, inginnya selalu perfek, serta tidak terbuka dengan masukan dan kritikan dari orang lain.

Keempat, koleris. Seorang yang berani menghadapi tantangan dan kesulitan, memiliki jiwa yang bebas dan mandiri, bisa menyelesaikan masalah sendiri meski dalam keadaan darurat, dan target yang dibuat harus tercapai.

Kekurangannya, cenderung menyukai hal-hal kontroversi, bahkan menyukai pertengkaran. Di samping itu, tipe koleris adalah tipe orang yang kaku dan kurang lembut dengan orang lain, tidak suka sesuatu yang sepele dan bertele-tele.

Lebih parahnya, tipe ini cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, dan tidak mudah mengakui kesalahannya apalagi meminta maaf.

“Harapannya,” kata Ustadz Deni, “setelah mempelajari ini kita bisa menempatkan diri kita di posisi masing-masing, bisa menyesuaikan diri dengan orang-orang di sekeliling kita.”

“Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, kita harus saling melengkapi dan memahami satu sama lain,” tambahnya.

“Meskipun manusia tempatnya salah dan lupa, tapi jika interaksi kita didasarkan pada ajaran Islam, insyaallah semuanya akan baik-baik saja,” pungkasnya.

Diakui beliau, meski ini teori barat, tapi bisa diterapkan untuk melihat karakter saudara sesama muslim.

Harapannya, agar bisa saling melengkapi dan memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga bisa berjalan bersama dalam perjuangan Islam. (Rihan Musadik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *