Untuk Malik, bukan Gajah; Untuk Ilmu, Bukan Dunia

SAUM (SahabatUmat)

“Aku datang kesini untuk berguru pada Imam Malik, bukan untuk melihat gajah”

Jauh di Madinah, di era madani Imam Malik yang melegenda, orang-orang berdatangan ke Kota Nabi untuk mengilmui khazanahnya, membersamainya dalam samudera ilmu yang luas, menyatu dalam majelisnya yang terang cahayanya.

Pada suatu hari nan terik, di tengah Imam Malik yang sedang mengajar murid-muridnya satu hadist Nabi, salah seorang murid berteriak girang sembari menunjuk ke luar ruang, “hei, lihatlah ada gajah besar masuk gerbang Madinah!”

Terang saja semua murid berhambur keluar menghampiri gajah itu, sesuatu yang amat langka dijumpai di tanah Arab, hingga semua orang takjub; berkerumun lalu bergeleng-geleng penasaran.

Namun tidak bagi seorang remaja yang masih duduk di Majelis sang Imam, tak bergeming, tak beralih. Ia masih saja menatap gurunya  dan tekun belajar

“Wahai Yahya,” sapa Imam Malik, “kenapa kau tidak melihat gajah seperti kawan-kawanmu yang lain? Apakah sudah pernah kau melihat gajah?”.

“Bukan guru, bukan itu alasannya”, jawabnya santun,
“Aku datang kesini untuk berguru pada Imam Malik, bukan untuk melihat gajah”, ujarnya mantap.

Remaja itu bernama Yahya bin Yahya Al-Laitsi, seorang yang datang dari negeri jauh ke Madinah, berbekal keteguhan, tak ada apapun yang bisa membuatnya menolah dari tujuan utamanya.

Sebab ia tahu bahwa pengembaraannya yang jauh sangatlah rugi jika terbayar dengan urusan dunia, apalagi hanya sekedar melihat gajah.

Hingga tibalah waktu menuai, di masa jayanya nanti, ia jadi periwayat Kitab Muwatha Imam Malik yang paling tersohor, menebarkan ilmu gurunya di penjuru dunia, padahal saat ia belajar pada Imam Malik, usianya paling muda dibanding yang lain.

Imam Muslim pun banyak mengambil riwayat dari Yahya, sebab ketajaman analisa dan kefahamannya.

Visinya begitu bening; mencari ilmu, memetik hikmah.

Dari tujuannya yang mulia, kisah di atas menjadi sejarah yang terkenal dikaji di banyak ruang-ruang belajar.

Yahya bin Yahya Al-Laitsi jadi inspirasi bagi mereka yang merantau jauh dari tanah air ke negeri orang, untuk benar-benar meminta pada Allah; agar ditunjukkan padanya samudera ilmu, lalu Allah berikan padanya nikmat mengais jutaan mutiaranya, bukan sekedar ‘bermain di tengah pasir-pasir pantai’.

Subhanallah, bukankah indah dalam bait-bait doa kita haturkan firman suci-Nya,

“Wa Qul Rabbi Zidni Ilma” berikan kami ilmu wahai Rabb Sang Maharaja Ilmu.

Niscaya Dia akan datang pada kita dengan berjuta pusaka ilmu-Nya yang mahal berharga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *