PUPUK RASA ‘IRI’ LEJITKAN POTENSI DIRI

PUPUK RASA ‘IRI’ LEJITKAN POTENSI DIRI

Banyak rasa iri yang menjerumuskan manusia kepada kerugian dan kesedihan. Namun ada iri yang membuat kita mampu melejitkan potensi kebaikan. Baik dalam hal ilmu, maupun dalam karya kebaikan.Yakni iri ketika melihat orang kaya yang rajin berderma dan iri ketika melihat orang alim yang mengamalkan dan megajarkan ilmunya. Iri semacam ini bukan saja diperbolehkan, bahkan mendatangkan pahala sebagai aplikasi dari niat yang baik. Karena tatkala timbul iri tersebut, iapun berniat untuk melakukan hal yang sama jika Alloh memberikan kesempatan kepadanya. Dan iri yang semacam ini  sangat besar manfaatnya. Nabi bersabda, “Tidak ada iri kecuali terhadap dua orang; orang yang di karuniai harta oleh Alloh lalu dia belanjakan di jalan kebenaran dan seseorang yang diberi hikmah (ilmu) oleh Alloh sedangkan ia mengamalkan dan mengajarkannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Maksudnya, tidak ada iri yang lebih sempurna manfaatnya selain iri dalam dua hal ini. Selain bahwa dua hal ini merupakan sarana taqarrub kepada Alloh yang paling kuat, sehingga layak apabila seseorang iri terhadap dua golongan ini. Begitulah yang di jelaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Baari.

PERBEDAAN IRI DAN DENGKI

            Iri semacam ini disebut dengan ‘ghibthah’ yang berbeda dengan umumnya hasad atau dengki. Antara keduanya memiliki perbedaan yang jelas dari sisi karakter dan pengaruhnya.

Kedengkian lahir dari kebencian, tidak suka jika suatu nikmat diberikan kepada orang yang didengkinya. Seringkali orang yang dengki juga sangat ingin jika nikmat itu dicabut dari orang lain.

Sedangkan ghibthah muncul dari rasa cinta. Ia ridha suatu nikmat itu di anugerahkan kepada saudaranya. Pada saaat yang sama, ia juga ingin memiliki dan berbuat kebaikan sebagaimana saudaranya.

Dari sisi pengaruhnya pun juga berkebalikan antara keduanya. Rasa dengki mewaenai suasana hati dengan rasa dongkol dan jengkel. Tak jarang ia mengalamatkan kejengkelan itu kepada Alloh yang di anggapnya salah alamat dalam memberikan anugrah. Dengki juga menjadi bibit permusuhan antara dirinya dengan orang yang di dengki. Bisa jadi kedengkian itu di lampiaskan dengan tindakan jahat terhadap yang di dengki. Belum lagi terhapusnya kebaikan dengan cepat, seperti kayu bakar yang di lalap api.

Adapun ghibthah , iri dalam kebaikan, memiliki dampak positif dan faedah yang sangat besar. Rasa itu akan menimbulkan keinginan untuk memiliki. Lalu keinginan itu akan menjelma menjadi azzam atau tekad untuk mengikuti langkah kebaikan seperti yang telah ditempuh oleh saudaranya. Ketika seseorang melihat orang alim yang gigih belajar, mujahadah dalam beramal dan tak kenal lelah dalam berdakwah, maka akan muncul keinginan untuk berbuat hal yang sama. Karena itulah para ulama menyukai kisah-kisah para tokoh pendahulunya yang membaca atau mendengarkan kisah mereka hati tertarik untuk mengikuti jejak mereka. Dalam hati pun akan semakin tumbuh rasa cinta kepada orang-orang shalih, padahal di akhirat, manusia akan dipertemukan dengan orang yang di cintainya.

TIDAKKAH ANDA IRI KEPADA MEREKA ?

Saat kita kesulitan mencari suasana yang mengundang inspirasi untuk beramal atau kita tidak mendapatkan teman yang ketika melihatnya muncul semangat untuk mempelajari ilmu syar’i, maka carilah suasana dan teman itu dalam biografi para ulama, atau kisah orang-orang yang memiliki kekuatan himmah (tekad). Dengan begitu, seakan anda berada di tengah mereka, merasakan hangatnya suasana mujahadah dalam mencari ilmu dan beramal, sedangkan aroma kemalasan disekitar kian lemah pengaruhnya terhadap kita.

Seperti Abdullah bin Mubarak yang memilih untuk bersegera pulang daripada duduk-duduk bercengkerama di depan masjid usai sholat. Ketika beliau di tanya kenapa, beliau menjawab, “Aku ingin segera bergabung  dengan para sahabat Nabi !” Orang-orang pun bertanya, “Buaknkah mereka sydah wafat?” Beliau menjawab, “Aku bergabung bersama mereka dengan membaca kisah tentang mereka.”

Dengan cara itu, orang-orang melihat kemiripan karakter Abdullah bin Mubarak dengan sahabat, baik dalam hal ilmu maupun dalam berbuat dan beribadah. Hingga seorang ulama memuji beliau, “Tidak ada yang membedakan Abdullah bin Mubarak dengan para sahabat,selain bahwa para sahabat pernah bertemu Nabi, sedangkan Abdullah bin Mubarak tidak.”

Alhamdulillah, kisah-kisah para ulama amilun banyak bertebaran dalam karya para ulama juga. Kita akan banyak mengambil manfaat dari kisah para pelopor kebaikan dengan variasi zaman, perbedaan latar belakang dan keadaan, serta dengan warna-warni unggulan amal yang mereka miliki. Kita juga lebih mudah menentukan arah bakat, cita-cita dan potensi kita dengan membandingkan dan melihat sisi  kemiripan kita dengan mereka. Apakah ingin menjadi orang alim yang beramal dan mengajarkan ilmunya, atau orang kaya dan rajin berderma.

Bahkan kita akan mendapat banyak contoh dari para pendahulu kita yang memiliki kedua-duanya, seorang alim yang padat jadwal belajar dan mengajar, rajin ibadah, namun juga menjadi hartawan yang dermawan. Semisal Abu Hanifah, yang di kenal sebagai fuqaha’ dan imam Madzhab, namun sejarah juga mencatat beliau sebagai pebisnis yang handal. Selain mendapatkan sedekah ilmu, santri-santri beliau juga tak sedikit yang mengenyam keberkahan rezeki yang beliau dermakan. Berkumpul pada diri beliau dua kekayaan dan dua kedermawanan. Beliau kaya ilmu dan harta kemudian mendermakan keduanya di jalan Alloh. Tidakkah Anda iri kepada beliau ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *