Aku Bangga Padamu, Nak

Banyumas, nurulummah.org – Sore itu, aku sedang duduk di kursi rumah membaca Al-Qur’an. Sesekali aku menangis mengingat suamiku yang tak kusangka ia akan pergi secepat itu. Belum sempat kuderai air mata yang mengalir di pipiku, terdengar suara ketukan pintu diiringi salam.

Suara yang sudah tak asing lagi ditelingaku, ia anak pertamaku. Masih duduk di bangku SMP di sebuah madrasah pondok pesantren tahfizhul Qur’an di daerah Banyumas, baru saja naik ke kelas dua.

Kubukakan pintu rumah, kusambut dengan penuh sayang, dan diciumnya tanganku. Di tangannya membawa sesuatu. “Apa itu, Nak?” tanyaku penasaran. “Ini, Mi, alhamdullilah dapat rezeki buat kita dari pondok”.

Tak bisa kutahan tangis ini, berlinang air mata ini seolah tak pernah habis menghujani pipiku. Aku tak tahu bagaimana perasaan anakku itu, ditinggal ayahnya di usia yang masih sangat belia.

Sambil membaringkan tubuhnya di kursi, ia mulai berceloteh, sesekali yang keluar beberapa ayat dan hadits yang menguatkan jiwaku sebagai seorang wanita. “Aku bangga padamu, Nak,” bisikku dalam hati.

Ia bilang, “Umi, besok kalau besar, aku ingin punya pondok. Kata ustadz di pondok, cita-cita harus besar, meski baru niat.”

“Kalau sekarang Umi sudah bisa ODOJ, aku sudah bisa OHOJ,” katanya.

“Apa itu, Nak?”

One hour one juz, aku ternyata bisa, Umi, pernah lima juz sehari.”

Kali ini yang keluar air mata bahagia. “Terima kasih, ya Allah, engkau karuniakan aku seorang anak yang menjadi keluarga-Mu di dunia, seorang penghafal Qur’an. Jaga anakku, ya Allah. Kuatkan hatinya dalam menghadapi segala ujian yang Engkau beri”.

“Jaga hatinya, ya Allah, agar ia bisa istiqomah menjadi ahlul Qur’an, Engkaulah Yang Maha Membolak-balikkan hati. Tolong anakku, bimbing anakku di manapun ia berada”.

* Penulis: Rihan Musadik
* Sumber: Cerita dari seorang ustadz, narasi dari penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *