30Menit Bersama Nabi SAW

Sabtu, 16 Oktober 2010 21:37
Ditulis oleh Adien Effendy

Sungguh pena akan bengkok, suara akan habis, ucapan akan terputus ketika tema pembicaraan adalah Rasulullah, kisah hidup Rasulullah, pribadi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Karena  terlalu banyak kemuliaan yang harus dibahas, karena tak terhitung keteladanan yang bisa ditiru. Meski tidak secara keseluruhan, setidaknya dari sisi terkecil sekalipun kita harus memulai keteladanan kita kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Rasulullah adalah orang yang paling rendah diri (tawadhu’) di hadapan Allah subhanahu wata’ala. Karena Beliau yang paling mengetahui seberapa besar keagungan Allah.

Dalam sebuah riwayat yang shahih disebutkan, seorang raja dari negeri Arab datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dia berjalan perlahan menuju Mekkah, hanya ingin mengetahui seperti apa sosok Nabi yang telah mampu membuat perubahan pada dunia. Ketika berada di hadapan Nabi, bergetarlah urat lehernya, seluruh tubuhnya gemetar dan bergoyang di tempat ia berdiri. Ia melihat mahkota kebesaran, tanda kebenaran dan kemuliaan pada diri Nabi. Nabi membuatnya tenang, hingga hilang ketakutannya dan beliau berkata: “Tenanglah, aku hanya seorang anak yang dilahirkan dari (rahim) seorang ibu yang makan dendeng (daging kering) di Mekkah ”.

Nabi Yang Murah Hati
Nabi shallahu alaihi wa sallam berkata: “Seandainya aku diundang untuk (makan) sepotong kikil, maka aku akan datang. Dan seandainya aku diberi hadiah sepotong paha maka aku terima ”.

Bukanlah sebuah penghormatan ketika seorang raja hanya diberi hidangan kikil. Tidak layak juga ketika sepotong paha dijadikan hadiah untuk seorang pemimpin. Tapi tidak untuk Nabi. Karena kemurahan hati, Beliau shallahu alaihi wa sallam tidak risih menerimanya bahkan yang lebih kecil dari itu.

Tidak pernah Beliau tebang pilih dalam memenuhi undangan, bahkan dari seorang Yahudi sekalipun. Tidak pernah merasa canggung ketika bepergian bersama sahabatnya, meski secara usia mereka jauh di bawahnya. Ketika mendengar ada seorang arab Badui sakit, beliau bergegas menjenguknya. Ketika ada seorang tua renta yang sakit demam, beliau segera menengoknya. Bahkan terhadap anak kecil, beliau sering bergurau dan bercanda dengan membolak-balikkan badannya. Ketika ada seorang Badui yang menghentikan perjalanannya, beliau justru turun dari kendaraannya dan berjalan bersamanya.

Suatu hari, seorang gadis kecil menarik tangan beliau dari dalam rumah ingin memperlihatkan pada beliau sesuatu yang sepele. Beliau bergegas memenuhi ajakannya dan pergi bersama gadis kecil tersebut seolah-olah beliau orang yang tidak punya beban dengan kesibukan dunia sedikitpun (padahal beliau adalah seorang Nabi dan pemimpin dunia yang di atas pundaknya bertumpu semua urusan umat).

Beliau pernah mengunjungi seorang anak kecil di Madinah yang sedang bersedih karena burung kesayangannya telah mati. Nabi ingin memberikan keteladanan bagaimana mendidik dan bersikap terhadap anak kecil. Beliau menemui anak tersebut dan bertanya : “Wahai Abu ‘Umair, apa yang terjadi dengan Nughair (burung pipitmu) ? “

Ada seorang wanita renta datang ingin mengetahui sosok Nabi. Dia menyangka akan bertemu dengan seseorang yang bertengger mahkota (di kepalanya), dikelilingi para penjaga, dikawal oleh tentara, dan diiringi para dayang di depan dan belakangnya. Dia terkejut, ternyata yang dia temui hanyalah seorang laki-laki yang sangat sederhana, bersahaja, berwibawa, dan tenang pembawaanya yang sedang duduk di atas tanah. Dia berkata: “Lihatlah kalian kepadanya, dia duduk seperti duduknya seorang hamba sahaya, dan dia makan seperti makannya seorang budak. Maka Beliau mengatakan: “Ya, kamu benar. Apakah ada orang yang lebih tahu bagaimana mengabdi (Allah) melebihi aku ? ”.

Sungguh sebuah jawaban yang sangat menawan, penuh dengan kesahajaan dan mencerminkan budi pekerti yang luhur.

Nabi Yang Menolak Disanjung
“Tak ada raja yang menolak sembah”. Mungkin pepatah itu hanya berlaku bagi raja-raja duniawi. Tapi tidak untuk Nabi shallalahu alihi wa sallam. Ketika datang utusan bani ‘Amir bin Sha’sha’ah dari Iraq, masing-masing dari utusan telah mempersiapkan kata-kata sanjungan dan pujian untuk Nabi. Tatkala mereka datang menghadap Nabi, Kepala utusan maju dan berkata: “Engkau adalah tuan kami, keturunan dari pemimpin kami. Engkau adalah pembesar kami, putra dari pembesar kami. Engkau adalah orang yang paling mulia dan paling agung diantara kami”. Mereka mengira bahwa Nabi akan tersanjung dan senang dengan pujian. Tapi lihatlah apa yang Nabi katakan:

“Hai, perkataan apa itu?! kedustaan dan kebodohan apa ini?!. Wahai manusia, bicaralah dengan perkataan yang baik jangan kalian turuti bujukan syaithan. Janganlah kalian memujiku seperti orang Nashrani memuji ‘Isa bin Maryam. Aku hanya seorang hamba dan utusan Allah, maka ucapkan: hamba Allah dan utusan-Nya ”. 

Inilah Nabi shallallahu alaihi wasallam, yang telah berhasil memberi warna baru bagi dunia dan memakmurkan alam semesta dengan cahaya nubuwwah. Inilah Nabi, yang belum pernah merasakan kenyang selama 3 hari berturut-turut dari makan roti dan gandum. Inilah Nabi, yang pakaiannya penuh dengan tambalan dan jahitan sementara umatnya mengenakan perhiasan Persia dan Romawi. Inilah Nabi, yang selalu duduk di atas tanah sementara para panglimanya mendiami istana-istana raja. Inilah Nabi, yang gemar duduk dan bercanda bersama anak kecil. Inilah Nabi, yang melakukan shalat sambil menggendong anak kecil di atas bahunya. Inilah Nabi, yang mengambil anak kecil dari ibunya dan meletakkannya di atas pangkuannya. Inilah Nabi, yang mengusap kepala anak yatim sambil meneteskan air mata. 

Dalam riwayat disebutkan bahwa Beliau memeras susu, memperbaiki sandal, menambal baju, menyapu rumah, dan mengiris daging untuk keluarganya dengan kedua tangannya sendiri.

Bahkan ketika sakaratul maut tiba, sikap rendah diri masih menghiasi diri Nabi shallallahu alaihi wasallam. Lihatlah doa yang diucapkan Nabi kepada Allah -bukankah Beliau adalah kekasih Allah-. Lihatlah apa yang diminta seorang kekasih kepada kekasihnya: “La ilaaha illallah, ya Allah mudahkan bagiku dalam menghadapi sakaratul maut. Semoga Allah mela’nat Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah). Ya Allah, jangan Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Ya Allah, jangan Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Ya Allah, jangan Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah ”.

Inilah sikap rendah diri yang sebenarnya. Muncul dari sosok yang kuat, bukan dari yang lemah. Melekat pada diri orang yang memiliki kekuasaan di atas bumi, bukan dari seorang miskin papa yang tak berdaya. Menghiasi pribadi yang paling mulia di atas bumi. Maka tak heran, jika sikap rendah diri Nabi ini membuat hati-hati yang keras menjadi lunak dan tunduk.

Ketika seorang Abu Jahal ingkar terhadap Nabi, datang Salman dari Persia mengatakan: “Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya”. Ketika seorang Abu Lahab durhaka terhadap Rasul, sekonyong-konyong Bilal datang dan berkata: “Aku beriman kepada Allah dan RasulNya ”. Ketika seorang Umayyah bin Khalaf kufur kepada Nabi, datang Shuhaib dari negeri Rum menyatakan: “ Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya”.

Senyum, Mata Uang Dakwah Nabi
Senyum, sesuatu yang ringan dilakukan tapi mampu menembus hingga kedalaman hati manusia. Senyum, barang yang sangat murah tapi hati yang dengki berubah jadi welas asih. Senyum adalah perangkat dan mata uang yang digunakan Nabi dalam berdakwah.
Ketika datang orang yang paling memusuhi Islam kepada Nabi, beliau tersenyum kepadanya. Maka dengan ijin Allah, orang tersebut mendapatkan petunjuk.

Jarir bin Abdullah mengatakan: “Tidak pernah aku melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam kecuali beliau pasti tersenyum kepadaku”.
Ketika ‘Amr bin ‘Ash –orang Arab yang paling dingin sikapnya– pertama kali  menyatakan keislamannya dihadapan Nabi, beliau tersenyum kepadanya sampai- sampai ia merasa sebagai manusia yang paling dicintai oleh Nabi.

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, dari Anas radhiallahu anhu: “Ada seorang Badui dari pedalaman datang kepada Nabi meminta anggur kering, kurma, biji-bijian. Ia minta dengan nada tinggi dan sikap yang tidak sopan sambil menarik kain selimut nabi yang kasar dengan keras hingga meninggalkan bekas di leher Nabi dan menjadi memar. Nabi menoleh kepada Badui tersebut sambil tersenyum.”
Anas ra berkata: “Itulah hari dimana seburuk-buruk pebuatan dibalas dengan sebaik-baik ucapan.”

Badui tersebut berkata kepada Nabi: “Hai Muhammad, berilah aku sebagian harta Allah yang ada padamu, bukan dari harta ayahmu, bukan dari harta ibumu!!”

Melihat sikap Badui terhadap Nabi, para sahabat berdiri karena hilang kesabaran dan hendak memukul si Badui. Umar bin Khattab adalah yang pertama berdiri. Tetapi Nabi menenangkan si Badui dan menyuruh para sahabat duduk sambil berkata: “Duduklah kalian, semoga Allah merahmati kalian”.

Badui tersebut merasa agak lega, kemudian diajak ke rumah Nabi dan beliau memberi semua permintaannya. Nabi bertanya padanya: “Apakah aku sudah berbuat baik kepadamu?”. Ia menjawab: “Ya, semoga Allah memberi balasan kepadamu keluarga dan kerabat yang baik!” Nabi berkata: “Keluarlah menuju para sahabatku dan ucapkan perkataanmu tadi, agar mereka tidak benci kepadamu ”. Maka ia keluar menuju para sahabat. Nabi bertanya kepadanya: “Apakah aku sudah berbuat baik kepadamu?” Ia menjawab: “Ya, semoga Allah memberi balasan kepadamu keluarga dan kerabat  balasan terbaik.”

Maka si Badui kembali ke kabilahnya dan menyeru agama Islam, mereka pun masuk Islam melalui si Badui. Nabi bertanya kepada para sahabat: “Tahukah kalian apa perumpamaan aku, kalian, dan Badui tadi?” Mereka menjawab: “Tidak tahu. Beliau berkata: “Perumpaman kita seperti seorang laki-laki yang mempunyai hewan tunggangan yang lari darinya. Orang-orang berusaha menangkap dan memegangnya tetapi ia semakin jauh larinya. Maka  laki-laki tersebut berkata: “Wahai manusia, tinggalkan hewan tungganganku! Aku lebih paham tentangnya. Maka ia pun mengambil rerumputan dan mengarahkannya ke hewan tersebut maka ia pun berlari menuju kepadanya. Laki-laki tersebut berhasil memegang dan mengikat hewan tunggangannya. Kalau seandainya aku membiarkan perbuatan kalian terhadap Badui tadi, pasti kalian akan memukulnya dan membunuhnya maka ia akan masuk neraka dan kaumnya tidak akan masuk Islam. Tetapi aku bersikap lembut kepadanya sehingga Allah menyelamatkannya dari neraka melalui tanganku dan kaumnya pun masuk Islam”.

Semoga Allah subhanahu wata’ala memberi kekuatan kepada kita untuk selalu ittiba’ dalam meneladani Nabi shallallahu alaihi wasallam.***

•    Diterjemahkan dari kumpulan khutbah DR. Aidh al-Qarn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *