Lemah Hafalan, Bukan Sifat Bawaan

Banyak kisah orang – orang istimewa di kalangan ulama, hamper selalu disebutkan sisi kuatnya hafalan. Usia dini yang mampu menghafal Al-Qur’an, juga banyak nya hadits yang mampu dihafalkan. Sebagian orang menyimpulkan, itu adalah kemampuan bawaan.Lalu di jadikan alas an untuk pamit dari menghafal Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi sholallohualaihiwassalam.

Apalagiyang telah terauma dengan kegagalan dalam hafalan, baik sulitnya menjalani proses menghafal, mau pun menjaga apa-apasaja yang telah di hafalkan.Ketika hafalan menginjak juz 29, apa yang di hafal dari juz 30 berangsur lenyap.Atau ketika mampu menghafal 5 hadits, sepuluh hadits lain yang tadinya telah dihafal tiba-tiba terhapus dari memori.

Sejatinya,faktor kesungguhan dan keseriusan lebih dominan mewarnai kecerdasan orang-orang pilihan. Imam Tirmidzi yang sanggup mengulang empat puluh hadits lebih dengan sekali dengar,tidak sertamerta mendapatkan. Juga Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang mampu menghafal setiap hadits yang di tulisnya. Pun juga ulama lain yang dikenal kuat hafalannya, merreka menuai hasil setelah melalui proses panjang.

BANYAK MENGULANG

          Yang kita mau, sekali baca hafal,sekali dengar langsung tersimpan, dantak hilang kemudian. Padahal, ulama sekali berImam al-Bukhari yang begitu hebat hafalan haditsnya, memberikan resep ‘sederhana’ketika di Tanya tentang obat lupa. Beliau menjawab, “Dengan terus mengulang membaca buku.”Jawaban ini besar kemungkinan merupakan rahasia awetnya hafalan beliau. Ya,banyak mengulang. Beliau tidak memberikan resep yang aneh –aneh.Intinya adalah kesungguhan dan kesabaran untuk mau belajar. Termasuk didalamnya menggunakan sarana yang menunjang kemudahan untuk menghafal sesuai dengan potensi masing-masing. Setiap orang memiliki sisi lemah, tapi memiliki kelebihan di sisi yang lain. Ada yang mudah menghafal dengn cara mengulang-ulang membaca ada yang lebih mudah jika dengan mendengar dan adalagi yang merasa lebih cepat‘nyanthol’ jika disertai dengan menulis sesuatu yang hendak dihafal.

            Seperti Ibnu Taimiyah disaat masih kecil. Seseorang yang mengajarkan hadits kepada beliau memintanya untuk menulis hadits, lalu menghapusnya.Selanjutnya beliau di minta mengulang apa yang tadi ia hapus.Beliau mendapatkan banyak hafalan dengan cara seperti ini. Bisa pula kita menggabungkan semua cara tersebut. Alhamdulillah,sekarang ada kemudahan dari sisi sarana untuk menghafal ,seperti kaset dan rekaman yang biasa kita aktifkan kapan pun kitamau, berapa kali pun kita ingin. Jadi mata membaca,tangan menulis, lalu telinga bias mendengar berulang-ulang.

BANYAK TAUBAT DAN MENJAUHI DOSA

          Jika kita merasa lemah hafalannya,atau sulit dalam merekam ilmu yang kita dengar dan kita baca, masih ada cara manjur untuk meng-upgrade hafalan.Yakni dengan menjauhi maksiat.

            Memang apa hubungannya antara maksiat dengan ilmu yang di dapat? Sangat erat. Paling tidak, itulah yang di simpulkan oleh banyak ulama. Secara tegas sahabat Abdullah bin Mas’ud rodhiallohuanhu berkata,“Sungguh saya menduga kuat, seserang yang lupa akan ilmu yang telah ia ketahui,disebabkan oleh dosa yang ia lakukan.”

            Maksiat adalah musush ilmu syar’i.Ilmu adalah cahaya sedangkan dosa bisa memadamkannya. Karenanya, tatkala Imam Malik takjuub akan kecerdasan dan kekuatan hafalan Imam Syafi’I, beliau berpesan, “Sesungguhnya aku melihat Alloh telah memancar kan cahaya(ilmu) di hatimu, maka jangan padam kan ia dengan gelapnya maksiat.”

            ImamSyafi’i juga manusia. Dalam perjalanan hidupnya juga pernah mengalami masa –masa krisis. Saat dimana beliau merasa tumpulnya hafalan, sulitnya mencerna ilmu.Itikad baik beliau mendorongnya untuk berkonsultasi kepada ustadznya, Waki’ binal-Jarah, gerangan apa yang membuat hafalan beliau begitu lambat. Sang ustadz hanya menyarankan satu solusi saja, “Bertaubatlah!”. Maka Imam Syafi’imengingat-ingat kesalahan yang ia lakukan, lalu bertaubat. Maka hafalannya pulih seperti sedia kala.Beliau ungkapkan kegembiraan beliau dalam syairnya, “Aku mengadu kepada Waki’ akan buruknya hafalanku. Ia pun menunjukan kepadaku untuk meninggalkan maksiat.Karena ilmu adalah cahaya, sedang cahaya Alloh tidak diberikan kepada pelaku maksiat.”

            Nah,siapkah kita mengakui,bahwa lemahnya hafalan kita disebabkan oleh banyaknya dosa yang kita lakukan?Mungkin mata kita yang sering melihat apa-apa yang semestinya tidak boleh kita lihat.Telinga kita mendengar apa-apa yang tidak layak kita dengar. Perut kita terisi sesuatu yang tidak boleh kita makan.

            Faktor lain yang menunjang kemudahan hafalan adalah dengan mengamalkan ilmu yang kita ketahui dan kita hafal, niscaya Alloh akan memberikan kemudahan untuk menambah ilmu. Alloh berfirman: “Dan Alloh akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS.Muhammad :19)

            Syeikh Muhammad bin Shalihal-Utsaimin berkata tentang ayat ini, “Maka setiap seseorang mengamalkan ilmunya, niscaya Alloh akan menambah kepadanya hafalan dan kefahaman.”  Wallohua’lam.

Leave Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *