​Cita-Cita Besar Membuahkan Karya Yang Besar

​Cita-Cita Besar

Membuahkan Karya Yang Besar

(oleh Ust Abu Umar Abdillah)

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana para ulama terdahulu meraih derajat excelent dalam hal ilmu, meski masih sedikit sarana yang menunjangnya ?

Imam Ahmad bin Hambal, beliau mampu menghafal satu juta hadits seperti yang di utarakan ar-Raazi. Padahal, pada zaman beliau, hadits-hadits yang di bukukan masih terbilang langka. Mungkin hanya kitab al-Muwatha’ karya Imam Malik dan beberapa karya lain yang masih berupa lembaran-lembaran yang belum di bukukan. Belum ada kitab shahih Bukhari, shahih Muslim, Sunan Tirmidzi, maupun kitab hadits yang lain, Referensi untuk menghafal rata-rata masih di simpan ‘fish shudur’ (di hafal para muhaditsin). Sehingga para prmburu hadits harus mendatangi langsung, orang-orang yang menghafal hadits. Pun begitu, beliau mampu menghafal hadits sebanyak itu.

YANG PENTING MOTIVASI

Bandingkanlah dengan hari ini. Kitab-kitab hadits telah terkumpul, software-software penunjang telah tersedia, namun berapakah jumlah orang yang mampu menghafalkan seribu hadits saja?

Kendalanya bukan dari sisi kemampuan atau minimnya sarana, tapi lemahnya kemauan dan matinya cita-cita. Seperti yang pernah di ungkapkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari, tatkala beliau menyuruh murid-muridnya untuk menulis tafsir Al-Qur’an setebal 30.000 halaman, lalu mereka mengatakan, “itu akan menghabiskan umur dan tak mungkin bisa beraktivitas yang lain. “mendengar jawaban itu, Ibnu Jarir berkata, “Allohu akbar, cita-cita kalian telah mati, kalau begitu ringkaslah menjadi 3.000 halaman !” Inilah penuturan ulamadan penulis ulung, yang seandainya seluruh karyanya di kalkulasi dengan umur yang beliau jalani, niscaya perhari didapatkan 60 halaman yang beliau tulis. Ini jika di asumsikan beliau mulai menulis di hari pertama kelahirannya.

Memang cita-cita besar akan membuahkan karya besar, meskipun minim sarana penunjang. Ibnul Qayim yang hidup diawal abad 8 Hijriyah pernah membaca tidak kurang dari 20.000 jilid. Andai saja kita menyelesaikan bacaan buku sehari satu jilid, maka butuh waktu 55 tahun untuk merampungkan sebanyak 20.000 jilid. Padahal, adakah hari itu mesin photo copy atau mesin cetak seperti sekarang ini ? Bagaimana beliau mendapatkan bukunya ? Siapapun yang bermujahadah di jalan Alloh, niscaya Alloh, niscaya Alloh akan menunjukan jalannya.

Para ulama dahulu terbiasa menyalin kitab-kitab yang tebal atau bahkan menulis buku-buku yang tebal. Seperti Imam al-Jurjani yang setiap malam menulis sebanyak 90 halaman dengan tulisan yang kecil-kecil. Andai saja ia menulis kitab Shahih Muslim dengan cara seperti itu, niscaya ia bisa merampungkannya hanya dalam waktu tujuh hari.

SEDIKIT SENTUHAN BANYAK MENGHASILKAN

Orang yang rendak cita-citanya, kerdil jiwanya, tak akan tergugah melakukan karya nyata, meskipun seribu nasihat tertuju kepadanya. Namun bagi jiwa yang besar, pemilik cita-cita yang besar, sedikit sentuhan sudah cukup untuk mengobarkan semangat, tertantang untuk mencoba membuahkan karya yang besar.

Seperti Imam Muhaditsin al-Bukhari, pemilik kitab yang paling shahih setelah kitabullah. Motivasi utama yang menjadikan beliau mampu mengumpulkan hadits-hadits shahih adalah ucapan gurunya yang bernama Ishaq bin Rahawaih, “Andai saja di antara kalian ada yang mengumpulkan hadits-hadits Nabi shalallahu alaihi wasallam yang shahih kemudian menulisnya dalam satu kitab.”

Kata-kata gurunya itulah yang menggugah semangat imam Bukhariuntuk mengumpulkan hadits-hadits Nabi shalallahu alaihi wasallam, hingga jadilah kitab Shahih Bukhari sebagai kitab yang paling shahih setelah kitabullah, seperti yang di sepakati oleh para ulama.

Seperti yang dialami pula oleh Imam adz-Dzahabi, seorang pakar hadits yang hingga kini selalu dibutuhkan ilmunya. Sedikit kata-kata harapan yang tercetus dari lisan gurunya, sanggup mengantarkan beliau menjadi pakar hadits kaliber dunia. Keajaiban itu bermula saaat gurunya mengomentari goresan pena yang ia tulis, “Sesungguhnya tulisan mu ini seperti tulisan para pakar hadits. “ Akhirnya sindiran ini bagaikan kereta yang mengantarkan beliau menjadi pakar hadits.

Dan tahukah anda, apa yang membuat Ibnu Hajar al-Asqalani menulis kitab Fathul Bari, syarh (penjelasan) dari shahih Bukhari? Yang karena bagusnya kitab ini, asy-Syaukani berkomentar tatkala diminta menulis syarh untuk shahih Bukhari, “Tidak ada hijrah lagi setelah al-fath,” yang beliau maksud al-fath adalah Fathul Bari. Bermula dari apakah kitab fenomenal ini ditulis?

Bermula dari harapan Ibnu Khaldun, lalu harapan itu diwujudkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, meskipun setelah berselang lama. Ibnu Khaldun pernah berkata di zamannya, “Sesungguhnya untuk menulis syarh (penjelasan) dari shahih Bukhari menjadi hutang bagi umat ini, sampai hari ini.”

Lalu Ibnu Hajarlah yang melunasi hutang umat ini. Abul Khair as-Sakhawi mengatakan, “Andai saja Ibnu Khaldun melihat apa yang telah ditulis oleh Ibnu Hajar, tentu akan sejuk pandangan matanya, dan ia akan melihat bahwa hutang umat ini telah terbayar lunas.”

Jika ingin besar seperti mereka, Anda harus memiliki nyali yang besar seperti mereka. Wallahul musta’an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *